Sabtu, 15 April 2017

MAKALAH PEMOTIVASIAN SISWA UNTUK BELAJAR

BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Di dalam kegiatan belajar mengajar, masalah terbesar yang dialami oleh para guru dan siswa-siswa adalah motivasi. Umumnya guru berharap agar siswa dapat memanfaatkan bakat dan waktunya selama berada di sekolah sehingga tujuan belajar tercapai secara maksimum, sedangkan bagi siswa (menyadari/tidak) akan berusaha mengembangkan potensi dan bakat yang mereka miliki. Sayangnya sering kali dalam praktek, tujuan guru sering tidak sesuai atau berbeda dengan apa yang ada dalam diri siswa, sehingga motivasi tidak berkembang malah diabaikan.
Seperti analogi berikut, “Kita dapat menggiring kuda ke air, tetapi kita tak dapat memaksa kuda untuk minum”. Hal yang sama akan terjadi bila dalam suatu kelas ada beberapa siswa benci ke sekolah, malas mengerjakan tugas-tugas dan menganggap dirinya bodoh, sebaliknya ada beberapa siswa yang senang belajar, aktif dalam kegiatan belajar. Jika guru mencoba memotivasi siswa dengan teknik yang sama, maka beberapa siswa akan merasa dibangkitkan tetapi yang lain merasa dimatikan motivasinya.Tugas guru sebagai pendidik adalah menemukan, menggugah dan mempertahankan motivasi siswa untuk belajar dan terlibat dalam aktifitas yang menuju pada pembelajaran.
Menilai pentingnya motivasi dalam proses pembelajaran, terlebih dalam tugas guru sebagai motivator, maka dalam makalah ini kami membahas tentang bagaimana seorang guru dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar dan juga bagaimana seorang guru dapat memberikan ganjaran atas kinerja, upaya dan perbaikan.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana teknik agar seorang guru dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar?
2.      Bagaimana teknik agar seorang guru dapat memberikan ganjaran atas kinerja, upaya dan perbaikan?


C.     Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui teknik agar seorang guru dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar.
2.      Untuk mengetahui teknik agar seorang guru dapat memberikan ganjaran atas kinerja, upaya dan perbaikan.
D.    Manfaat Penulisan
1.      Agar dapat mengetahui teknik agar seorang guru dapat memberikan ganjaran atas kinerja, upaya dan perbaikan.
2.      Agar dapat mengetahui teknik agar seorang guru dapat memberikan ganjaran atas kinerja, upaya dan perbaikan.




BAB II
PEMBAHASAN

I.                   Bagaimana Guru Dapat Meningkatkan Motivasi Siswa untuk Belajar
Belajar memerlukan usaha. Euclid, seorang ahli matematika yunani yang hidup sekitar tahun 300 S.M. dan menulis buku geometri pertamanya, ditanya oleh rajanya apakah ada jalan pintas yang dapat ia gunakan untuk belajar geometri, karena ia orang yang sangat sibuk. “Maafkan saya,” jawab Euclid, “tidak ada jalan kerajaan menuju geometri.” Hal yang sama berlaku untuk mata pelajaran lain. Siswa mendapatkan hasil dari setiap mata pelajaran yang diikuti sebanyak usaha yang telah ia curahkan untuk mata pelajaran itu.
Untuk mengharapkan siswa benar-benar belajar demi mendapatkan hasil terbaik dari proses pembelajaran, guru memiliki tugas untuk memotivasi siswa dalam kegiatan belajar  mengajar. Tidak ada jalan pintas untuk belajar, siswa tersebut hanya akan mendapatkan hasil sesuai dengan apa yang ia pelajari. Maka dari itu sebagai guru, pentinglah kiranya untuk memotivasi siswa agar tercapai hasil pembelajaran yang diinginkan.
Berikut akan dijelaskan bagaimana guru dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar.
1.                  Motivasi instrinsik dan ekstrinsik
Kadang-kadang suatu mata pelajaran begitu mengasyikkan dan berguna bagi siswa sehingga mereka mau untuk mengerjakan tugas yang diperlukan untuk mempelajari materi pelajaran tanpa insentif selain dari tingkat minat terhadap materi itu sendiri. Sebagai misal, banyak siswa yang dengan senang hati mengambil kursus otomotif atau fotografi dan bekerja keras demi kursus itu, malah meskipun bila kursus itu tidak menjanjikan kredit atau gelar. Bagi siswa-siswa ini subyek yang favorit itu sendiri memiliki nilai insentif intrinsik yang cukup untuk memotivasi mereka belajar. Siswa lain senang mempelajari tentang topik-topik khusus seperti serangga, dinosaurus, atau orang penting dalam sejarah dan memerlukan sedikit dorongan atau ganjaran untuk belajar (Gottfried, 1990; Renninger, Hidi, & Krapp, 1992).
Sementara itu, banyak dari apa yang harus dipelajari di sekolah tidak dengan sendirinya menarik atau berguna bagi kebanyakan siswa dalam jangka pendek. Siswa menerima sekitar 900 jam pelajaran setiap tahun, dan minat instrinsik (yang terkandung di dalam) sendirian tidak akan membuat mereka tetap antusias bekerja hari demi hari. Khususnya motivasi instrinsik siswa umumnya menurun mulai dari kelas-kelas awal sekolah dasar sampai sekolah menengah (Sethi, Drake, Dialdin, & Lepper, 1995). Oleh karena alasan inilah sekolah menerapkan berbagai macam insensif ekstrinsik, ganjaran untuk belajar yang didak melekat di dalam materi pelajaran yangg dipelajari. Rentangan ganjaran ekstrinsik (dari luar) dapat mulai dari pujian, nilai, pengakuan, hadiah, atau penghargaan lain.
Eksperimen Lapper tentang Dampak Ganjaran Terhadap motivasi. Pertanyaan penting dalam penelitian tentang motivasi berkenaan dengan apakah ya atau tidak pemberian ganjaran ekstinsik menyurutkan minat instrinsik dalam suatu aktivitas. Dalam suatu eksperimen klasik mencari jawaban atas pertanyaan ini, Lepper dkk. (1973) memberi anak-anak prasekolah suatu kesempatan untuk menggambar dengan menggunakan spidol, dan banyak di antara mereka menggambar dengan sangat antusias. Kemudian peneliti itu membagi secara acak anak-anak itu menjadi tiga kelompok: satu kelompok diberitahu bahwa anggota kelompoknya akan menerima hadiah sebagai imbalan untuk melukis sebuah gambar untuk seorang pengunjung, satu kelompok diberi hadiah yang sama sebagai suatu kejutan (tidak bergantung kepada lukisan anak-anak itu), dan satu kelompok tidak menerima hadiah. Selama empat hari berikutnya, pengamat mencatat kegiatan bermain-bebas anak-anak tersebut. Anak-anak yang menerima hadiah menghabiskan waktu untuk menggambar dengan spidol sekitar setengah dari waktu yang dihabiskan oleh anak-anak yang mendapat hadiah sebagai kejutan dan anak-anak yang tidak mendapat hadiah. Peneliti itu menyimpulkan bahwa menjanjikan ganjaran ekstrinsik untuk suatu kegiatan yang sercara instrinsik menarik dapat merusak minat instrinsik dengan membuat siswa mengharapkan suatu hadiah untuk melakukan apa yang pada mulanya dilakukan untuk tidak menerima sesuatu. Dalam suatu penelitian yang kemudian (Greene & Lepper, 1974), ditemukan bahwa hanya dengan memberi tahu bahwa mereka akan diamati (melalui kaca satu-arah pandang) memiliki pengaruh yang merusak serupa dengan pengaruh hadiah yang dijanjikan.
Apakah Ganjaran Merusak Motivasi Instrinsik? Dalam memahami hasil-hasil penelitian ini, penting memperhatikan kondisi-kondisi dari penelitian tersebut. Siswa yang dipilih untuk penelitian itu adalah siswa yang nenunjukkan minat instrinsik dalam menggunakan spidol; siswa yang tidak menunjukkan minat instrinsik di keluarkan dari eksperimen. Demikian juga, menggambar dengan spidol tidak lazim sebagai kebanyakan tugas  sekolah. Banyak siswa yang senang menggambar di rumah, tetapi sedikit, meskipun siswa yang paling berminat dalam mata pelajaran sekolah, atas kemauannya sendiri akan belajar tata bahasa dan ejaan, mrengerjakah soal-soal matematika, atau mempelajari valensi unsur-unsur kimia. Lebih jauh lagi, banyak dari ilmuan paling kreatif dan termotivasi -diri-sendiri memperoleh penguatan instensif dengan nilai, hadiah lomba karya ilmiah, dan beasiswa untuk mengerjakan sains pada masa mereka masih di bangku sekolah, dan sebenarnya semua artis yang berhasil telah memperoleh penguatan pada suatu saat untuk keikutsertaannya dalam aktivitas seni. Penguatan ini sudah barang tentu tidak merusak minat instrinsik mereka. Penelitian terhadap siswa-siswa yang lebih dewasa mengerjakan tugas-tugas yang lebih menyerupai tugas-tugas sekolah pada umumnya telah gagal mereplikasi atau mengulang hasil-hasil eksperimen Lepper dkk, yang dipublikasikan pada tahun 1973 itu (Cameron & Pierce, 1994; Pittman, Boggiano, & Ruble, 1983). Pada kenyataannya, penggunaan ganjaran lebih sering meningkatkan motivasi instrinsik, khususnya apabila ganjaran itu lebih ditentukan oleh kualitas kinerja daripada sekedar peran serta dalam suatu aktivitas (Deci & Ryan, 1985, 1987; Lepper, 1983), apabila ganjaran itu dipandang sebagai pengakuan atas kompetensi (Rosenfield, Folger, & Adelman, 1980), apabila tugas yang dikerjakan tidak amat menarik (Morgan, 1984), atau apabila ganjaran itu lebih berciri sosial (misalnya, medali) daripada materiel (Cameron & Pierce, 1994; Chance, 1992; Miller & Hom, 1990; Ryan & Stiller).
Penelitian tentang pengaruh ganjaran ekstrinsik terhadap motivasi instrinsik menganjurkan untuk berhati-hati dalam penggunaan ganjaran materiel untuk tugas-tugas yan g menarik secara instrinsik. Guru hendaknya berupaya membuat segala sesuatu yang mereka ajarkan semenarik mungkin secara instrinsik dan hendaknya menghindari pemberian ganjaran materiel apabila tidak diperlukan, namun guru hendaknya jangan menghentikan pemberian ganjaran ekstrinsik apabila diperlukan (Lepper, 1983). Sering kali, hadiah ekstrinsik mungkin diperlukan untuk memicu siswa memulai aktivitas belajar namun dapat dihapus setahap demi setahap pada saat siswa sudah mulai menikmati aktivitas tersebut dan berhasil menyelesaikannya (Stipek, 1993). 

2.                  Bagaimana Guru Dapat Meningkatkan Motivasi Intrinsik?
Pelajaran dikelas harus sejauh mungkin dapat meningkatkan motivasi untuk intrinsik. Hal ini berarti bahwa guru harus berupaya agar siswa-siswa mereka tertarik dengan materi pelajaran yang akan dipresentasikan dan kemudian mempresentasikannya dengan cara yang menarik sehingga memuaskan dan meningkatakan rasa ingin tahu siswa tentang materi itu sendiri. Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat ditempuh untuk menggugah minat siswa.
a)      Membangkitkan Minat
Membangkitakan minat penting untuk meyakinkan siswa akan penting dan menariknya materi yang akan dipresentasikan, demikian juga penting untuk menunjukan bagaimana pengetahuan yang diperoleh akan berguna bagi siswa. Sebagai contoh, motivasi intrinsik untuk mempelajari materi Fisika tentang Pesawat sederhana dengan membuka pelajaran sebagaimana berikut.
Hari ini kita akan belajar tentang pesawat sederhana. Pesawat sederhana bukanlah pesawat yang dibuat sederhana, melainkan alat yang digunakan untuk mempermudah pekerjaan manusia. Pesawat sederhana ini, sangat banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh, apabila kita ingin memindahkan barang dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah, kita dapat memindahkan barang tersebut menggunakan papan yang dimiringkan. Hal tersebut adalah salah satu cpntoh pesawat sederhana yaitu bidang miring. Tentunya hal tersebut akan sangat mempermudah pekerjaan kita. Kita akan terus menerus menggunakan pesawat sederhana, seperti bidang miring, pengungkit, katrol dan roda gigi untuk mempermudah pekerjaan. 
Selain itu, juga dapat membuka pelajaran dengan contoh-contoh yang mengaitkan materi pelajaran dengan latar belakang budaya. Sebagi contoh, dalam membuka pelajaran astronomi, guru dapat mengatakan “ Selama beberapa tahun silam, suku Maya yang hidup di Amerika Tengah mampu meramalkan kapan terjadinya gerhana bulan. Bagaimana mereka dapat melakukannya? Nah, sekarang ini kita akan memepelajari tentang bagaimana terjadinya gerhana bulan.
Maksud dari pertanyaan tersebut adalah untuk membangkitkan rasa ingin tahu siswa terhadap pelajaran yang akan diterima. Tentunya hal tersebut akan meningkatkan motivasi intrinsik siswa untuk mempelajari materi pelajaran tersebut. Selain itu, dengan cara memberikan siswa beberapa pilihan tentang apa yang akan mereka pelajari dan bagaimanan mereka akan memepelajarinya, juga akan meningkatkan minat intrinsik dari siswa tersebut.
b)      Mempertahankan Rasa Ingin Tahu
Mempertahankan rasa ingin tahu, seorang guru seharusnya mahir menggunakan berbagai macam cara untuk membangkitkan atau terus mempertahankan rasa ingin tahu sepanjang pelajaran itu berlangsung. Sebagai contoh, guru Fisika, sering menggunakan demonstrasi sebagai kejutan atau membuat siswa kagum dan menyebabkan mereka ingin tahu mengapa. Penggaris yang digosokan di rambut, kemudian didekatkan dengan potongan kertas, penggaris akan dapat menarik potongan kertas tersebut. Kepingan uang logam yang mengembang membuat siswa ingin tahu tentang tegangan permukaan zat cair.
(Berlyne, 1965 dalam Mohamad Nur) membahas konsep rasa ingin tahu epistemik (epistemic curiosity), yaitu perilaku yang tertuju kepada perolehan pengetahuan, menguasai dan memahami lingkungan. Ia berhipotesis bahwa rasa ingin tahu epistemik berasal dari konflik konsep, yang terjadi saat informasi baru dirasakan bertentangan dengan pemahaman sebelumnya. Berlyne menyarankan penggunaan secara hati-hati kejutan, keragu-raguan, kebingungan, kekaguman, dan kontradikisi (pertentangan antara dua hal yang berbeda) sebagai sarana untuk membangkitkan rasa ingin tahu epistemik.
c)      Menggunakan Berbagai Macam Model Presentasi
Menggunakan berbagai macam model presentasi yang menarik motivasi intrinsik untuk mempelajari sesuatu dapat ditingkatkan dengan penggunaan materi yang menarik, di samping dengan berbagi macam model presentasi (Shirley & Reynold, 1988 dalam Mohamad Nur). Sebagai misal, minat siswa dalam suatu mata pelajaran dapat dipertahankan dengan secara bergantian menggunakan film, pembicara tamu, demonstrasi, dan sebagainya, meskipun penggunaan tiap-tiap sumber belajar itu harus direncanakan dengan hati-hati untuk memastikan sumber belajar ini mengarah pada pencapaian tujuan pelajaran dan melengkapai aktivitas-aktivitas lainnya. Penggunaan komputer dapat meningkatkan kebanyakan motivasi intrinsik siswa untuk belajar (Lepper, 1985 dalam Mohamad Nur).
d)      Penggunaan Permainan atau Simulasi
Satu cara yang sangat bagus untuk meningkatakan minat dalam suatu mata pelajaran adalah penggunaan permainan atau simulasi. Simulasi, atau bermain peran, merupakan suatu latihan di mana siswa melakukan suatu peran dalam aktivitas-aktivitas yang sesuai dengan peran itu.  Keuntungan simulasi  memungkinkan siswa belajar tentang suatu mata pelajaran dari dalam. Meskipun penelitian tentang penggunaan simulasi menemukan bahwa simulasi memiliki tingkat efektivitas yang kecil atau lebih tidak efektif untuk mengajarkan fakta dan konsep. Penelitian-penelitian secara konsisten menemukan bahwa simulasi meningkatkan minat, motivasi, dan pembelajaran afektif siswa (Dukes & Seider, 1978 dalam Mohamad Nur). Simulasi sangat berperan dalam menanamkan  berbagai pengetahuan afektif dari suatu mata pelajaran.
Permainan-permainan simulasi dapat juga meningkatkan motivasi belajar suatu mata pelajaran. Teams-Games-Tournament, atau TGT (Slavin 1955a dalam Mohamad Nur), menggunakan permaiann yang dapat diadaptasi untuk setiap mata pelajaran. Permainan tim umumnya lebih baik daripada permainan individual; permainan tim memberi kesempatan kepada teman setim untuk saling membantu dan menghindari satu masalah dalam permainan individual, yaitu siswa yang lebih mampu dapat terus menerus menang. Apabila siswa dikelompokan ke dalam tim-tim yang anggotanya memiliki kemampuan yang berbeda-beda , seluruh tim memiliki peluang yang sama untuk berhasil atau menang.
e)      Membantu siswa menetapkan tujuan mereka sendiri.
Satu prinsip mendasar dari motivasi adalah bahwa orang akan bekerja lebih keras untuk tujuan-tujuan yang mereka tetapkan sendiri daripada tujuan-tujuan yang diperuntukan bagi mereka namun ditetapkan oleh orang lain. Sebagai misal, seorang siswa dapat menetapkan sejumlah soal minimum yang ia harapakan untuk mengerjakannya di rumah atau nilai yang ia harapkan dapat tercapai pada suatu ujian yang akan datang. Pada pertemuan-penetapan tujaun berikutnya guru akan membahas keberhasilan atau kegagalan siswa mencapai tujuan itu dan menetapkan tujuan baru untuk selanjutnya. Dalam pertemuan-pertemuan seperti ini guru dapat membatu siswa belajar menetapkan tujuan yang ambisius (mengandung keinginan besar) namun masih realistis dan kan memberikan hadiah kpada mereka untuk penetapan  dan kemudian pencapaian  tujuan mereka.  

3.                  Prinsip-prinsip dalam Pemberian Insentif untuk Belajar
Brophy (1987) menyatakan bahwa disamping guru berusaha untuk memperkuat motivasi intrinsik siswa untuk belajar materi-materi akademik, pada saat yang sama guru juga harus menaruh kepedulian terhadap timbulmya motivasi ekstrinsik menggunakan insentif. Karena tidak semua mata pelajaran secara intrinsik menarik bagi seluruh siswa (dalam Nur,1998) dan siswa harus dimotivasi untuk melakukan kerja keras. Adapun insentif adalah penguatan yang dapat diharapkan seseorang untuk mendapatkannya apabila ia melakukan suatu perilaku tertentu. Bentuk insentif sendiri bermacam-macam. Pada insentif ekstrinsik meliputi pujian,nilai medali, ganjaran, dan lain-lain.Hal-hal yang sangat penting diperhatikan adalah prinsip-prinsip pemberian intensif itu sendiri. Berikut in prinsip-prinsip pemberian insentif untuk belajar, antara lain:
a.       Menyatakan Harapan dengan Jelas
Siswa perlu mengetahui harapan guru mengenai tujuan pembelajaran suatu materi. Sering kali, kegagalan siswa untuk suatu tugas tertentu disebabkan oleh kebingungan tentang apa yang diminta untuk mereka kerjakan Untuh itu, guru harus menyampaikan informasi atau memberikan suatu tugas kepada siswa haruslah sejelas mungkin. Hal ini menjadikan siswa secara penuh memberikan kinerja terbaiknya. Karena siswa paham mengenai apa yang harus dilakukan, bagaimana mereka akan dievaluasi, dan apa konsekuensi yang akan diterima jika mereka berhasil dan bagaimana pentingnya pekerjaan itu bagi nilai siswa nantinya.. Kejelasan ini akan memberikan kejaminan kepada siswa bahwa jerih payah yang dicurahkan untuk menulis sebuah karangan yang baik ataupun menyelesaikan tugas yang baik akan ada imbalannya-dalam hal ini, imbalan nilai. Apabila guru hanya mengatakan, “Saya ingin kamu semua menulis karangan tentang apa yang ada di dalam benak Thomas Jefferson tentang pemerintahan di Amerika Serikat sekarang ini”, siswa dapat menulis hal yang salah, menulis terlalu panjang atau terlalu pendek, atau boleh jadi lebih menekankan tulisannya seandainya Jefferson hidup hari ini daripada aspek pembandingan pemerintahan. Mereka tidak akan yakin berapa banyak guru menekankan pentingnya mekanisme karangan dibandingkan dengan isinya. Terakhir, siswa tidak akan tahu bahwa bagaimana jerih payah mereka akan dihargai, karena guru tidak memberikan indikasi tentang berapa besar bobot karangan itu dalam menghitung nilai akhir.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Graham, MacArthur, dan Schwartz (1995) menunjukkan pentingnya kespesifikan. Siswa kelas lima dan kelas enam yang rendah hasil belajarnya diminta untuk merevisi karangan dengan perintah yang lebih umum atau perintah yang lebih spesifik, yaitu “buat makalahmu menjadi yang lebih baik” atau “paling sedikit tambahkan tiga hal yang akan menambah informasi pada makalahmu”. Siswa-siswa yang mendapat perintah lebih spesifik kualitas tulisannya lebih tinggi, revisinya lebih panjang karena mereka memiliki ide yang lebih jelas tentang apa yang diminta untuk mereka kerjakan. 
b.      Pemberian Balikan yang Jelas
Kata umpan balik atau balikan berarti informasi atas hasil-hasil dari upaya seseorang. Istilah balikan digunakan berkenaan dengan dua-duanya, yaitu informasi yang diterima siswa tas kinerja mereka dan informasi yang diterima guru atas akibat dari pengajaran mereka. Balikan dapat digunakan sebagai insentif. Penelitian tentang balikan telah menemukan bahwa menyediakan informasi atas hasil-hasil tindakan seseorang dapat merupakan ganjaran yang memadai dalam sejumlah kasus. Tetapi bagaimanapun juga, agar menjadi motivator yang efektif, balikan harus jelas dan spesifik dan harus diberikan berdekatan waktunya dengan kinerja terkait (Kulik, 1988). Hal ini penting untuk semua siswa dan khususnya untuk siswa muda usia. Sebagai misal, pujian untuk suatu tugas yang dikerjakan dengan baik seharusnya menyebut secara spesifik apa yang dikerjakan siswa dengan baik:
-          “Kerja bagus! Analisismu mengenai penyebab ketidaksesuaian hasil praktikum dengan teori sangat sistematis dan mampu dijelaskan secara logis.
-          “Kerja bagus! Saya tertarik dengan caramu menggunakan kata-kata penuntun di dalam kamus itu menemukan kata-kata pada lembar kegiatanmu”.
-          “Saya suka jawaban itu. Jawabanmu itu menunjukkan bahwa kamu telah memikirkan tentang apa yang telah saya katakan tentang kebebasan dan tanggung jawab”.
-          Ini sebuah karangan yang amat bagus. Karangan ini dimulai dengan sebuah pernyataan tentang sanggahan yang akan kamu buat dan kemudian menunjang sanggahan itu dengan informasi yang relevan. Sayajuga suka dengan kecermatan atas tanda baca dan penggunaan kata”.
Balikan yang spesifik memiliki dua ciri, yaitu ciri informatif dan ciri motivatif (Kulhavy dan Stock, 1989). Balikan ini menyatakan kepada siswa, sehingga mereka akan mengetahui apa yang dilakukan di masa yang akan datang dan membantu dalam memberi mereka suatu upaya berdasarkan atribusi untuk berhasil (“Kamu berhasil karena kamu bekerja keras”). Sebaliknya, apabila siswa dipuji atau menerima suatu nilai bagus tanpa penjelasan apa pun, kecil kemungkinannya mereka belajar dari balikan itu apa yang seharusnya diperbuat lain waktu agar berhasil dan dapat  membentuk  suatu atribusi kemampuan (“Saya berhasil karena saya pintar”) atau atribusi eksternal (“Saya telah berhasil karena guru saya menyukai saya, tugasnya mudah, atau saya beruntung.”). Seperti telah disebutkan terdahulu, atribusi upaya adalah paling kondusif untuk melanjutkan motivasi. Sama halnya, balikan tentang kesalahan atau kegagalan dapat menambah motivasi apabila balikan itu hanya memfokuskan pada kinerja itu sendiri (bukan pada kemampuan umum siswa) dan jika balikan ini diselingi dengan balikan atas keberhasilan (Clifford, 1984,1990).
c.       Pemberian Balikan Segera
Kesegeraan juga sangat penting (Kulik,1988). Apabila siswa menyelesaikan suatu tugas pada hari Senin dan belum menerima balikan apapun atas pekerjaan tugas itu sampai hari Jum’at, nilai informatif dan normatif dari balikan itu akan berkurang. Pertama, apabila mereka membuat kekeliruan atas materi tertentu, mereka dapat terus membuat kekeliruan serupa sepanjang minggu itu yang kemungkinan dapat dicegah dengan balikan pada kinerja itu. Kedua, suatu penundaan panjang antara perilaku dan konsekuensi  mengaburkan hubungan antara keduanya. Khususnya, siswa-siswa muda usia, mungkin tidak begitu memahami mengapa mereka menerima nilai tertentu apabila kinerja yang digunakan sebai dasar penilaian terjadi beberapa hari yang lalu.
d.      Pemberian Balikan Sering Dilakukan
Balikan seharusnya sering diberikan kepada siswa untuk mempertahankan upaya terbaik mereka. Srbagai misal, adalah realistik untuk mengharapkan kebanyakan siswa bekerja keras 6 sampai 9 minggu disertai pengharapan terjadi peningkatan nilai mereka kecuali mereka menerima balikan sering. Penelitian dalam tradisi teori belajar prilaku menyimpulkan bahwa tidak memandang bagaimanapun kuatnya suatu ganjaran, ganjaran kecil tetapi sering diberikan merupakan insentif yang lebih efektif daripada ganjaran besar yang tidak sering diberikan. Penelitian terhadap frekuensi pengetesan umumnya telah menemukan bahwa merupakan ide yang bagus untuk sering memberikan kuis singkat untuk menilai kemajuan siswa daripada tes panjang yang jarang diberikan (Dempster, 1991). Penelitian juga mengungkapkan pentingnya mengajukan banyak pertanyaan di kelas sehingga siswa dapat memperoleh informasi tentang tingkat pemahaman mereka sendiri dan dapat menerima penguatan (pujian, pengakuan) atas perhatian yang mereka curahkan kepada pelajaran.
e.       Peningkatan Nilai dan Adanya Motivasi Instrinsik
Teori-teori harapan tentang motivasi menyatakan bahwa motivasi ditentukan oleh hasil kali antara nilai insentif suatu keberhasilan menurut persepsi individu dan peluang untuk berhasil menurut taksiran individu (Atkinson dan Birch, 1978). Satu implikasi (pengertian yang tidak disebutkan secara langsung) dari teori ini adalah bahwa siswa harus menghargai insentif yang digunakan untuk memotivasi mereka. Sejumlah siswa tidak tertarik dengan pujian atau nilai namun justru menghargai informasi tertulis yang dikirimkan ke rumah untuk orang tua mereka, sedikit waktu istirahat ekstra, atau hak-hak khusus di kelas.
Implikasi lain dari teori harapan adalah bahwa seluruh siswa harus memiliki kesempatan memperoleh ganjaran apabila mereka melakukan yang terbaik, namun seharusnya jangan ada satu orang siswa pun memperoleh kemudahan mencapai ganjaran maksismum. Prinsip ini dilanggar oleh praktek-praktek pemberian nilai tradisional karena sejumlah siswa merasa mudah mendapat nilai A dan B sementara yang lain yakin bahwa mereka memiliki peluang kecil mencapai sukses akademik apa pun yang mereka lakukan. Dalam kondisi seperti ini, baik siswa yang prestasi akademiknya tinggi maupun yang prestasi akademiknya rendah kemungkinan sekali tidak mencurahkan upaya terbaik mereka. Hal ini merupakan satu alasan pentingnya memberikan ganjaran kepada siswa bagi upaya yang mereka lakukan, untuk melakukan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka lakukan di waktu lampau, atau membuat kemajuan, daripada sekedar mendapatkan nilai tinggi. Sebagai misal, siswa dapat mengumpulkan koleksi karya (portofolio) yang terdiri dari karangan, proyek, laporan, atau karya lain dan kemudian dapat melihat bagaimana karya mereka bertambah baik dari waktu ke waktu. Tidak semua siswa mempunyai kemampuan yang sama untuk mencapai nilai tinggi, tetapi semua siswa mempunyai kemampuan yang sama untuk mencurahkan upaya, melampaui rekor mereka sendiri di waktu lampau, atau membuat kemajuan, sehingga hal-hal ini sering lebih baik, merupakan kriteria untuk pemberian ganjaran yang lebih tersedia.  

II.                Bagaimana Guru Dapat Memberikan Ganjaran Atas Kinerja, Upaya dan Perbaikan
Seperti telah ditekankan berkali-kali dalam bab ini, sistem intensif yang diterapkan di kelas seharusnya memfokuskan pada upaya siswa, bukan kemampuan. Sebagai misal, seorang siswa yang pada ujian awal memperoleh nilai 4 dan pada ujian akhir memperoleh nilai 6 seharusnya diberikan nilai yang lebih tinggi dari pada siswa lain yang pada ujian awal memperoleh  nilai 7 namun pada ujian akhir memperoleh nilai 7 juga.
Namun tentu contoh di atas menguntungkan bagi seorang siswa dan merugikan untuk siswa yang lain. Maka dari itu, motivasi yang paling efektif ialah dengan langsung memberi ganjaran pada hasil belajar atau perilaku siswa. Untuk lebih jelasnya, akan dibahas pada bagian ini.
1.      Penggunaan Pujian Secara Efektif
Pujian dapat didefinisikan secara sederhana sebagai suatu yang berfungsi sebagai insentif, sesuatu yang penting bagi anak dan yang memperbesar kemungkinan terulangnya perilaku yang diinginkan (Mallory M. Collins dan H. Fantenelle, 1992 : 24). Tujuan utama pemberian pujian adalah agar siswa mau melakukan apa yang diminta dan diharapkan. Pujian sering mengubah motivasi siswa, akan mengubah perilaku siswa dalam menghadapi sesuatu yang semula dianggap tidak menarik menjadi sesuatu yang ingin dilakukan (Mallory M. Collins dan H. Fentelle, 1992 : 24) sedangkan, menurut George Brown, (1990 : 138), istilah teknis yang dipakai untuk menyatakan setiap teknik mengurangi atau mengubah tingkah laku dengan Reinforcement dapat bersifat positif (memberikan pujian) maupun negative (tidak memberikan pujian, umpan balik korektif dan hukuman).
Pemberian pujian dapat dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar dapat dikatakan sebagai aktivitas yang diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar pada diri siswa. Pemberian pujian ini diharapkan dapat memacu keaktifan dan keberanian siswa mengeluarkan pendapat.
Pujian hendaknya hanya diberikan kepada jawaban benar dan prilaku yang pantas di puji. Secar khusus hal ini berarti bahwa guru memuji siswa untuk prilaku sprsifik,bukan untuk “kebaikan” umum. Sebagai misal, seorang guru lebih baik mengucapkan, “Santi, saya senang kamu mengikuti arahan yang saya berikan untuk mulai menulis karanganmu”, dari pada mengucapkan “Santi, kamu hebat!”
Agar pujian itu benar-benar dapat dipercaya, maka pujian itu hendaknya diberikan untuk kerja yang benar-benar baik. Brophy (1981) mengemukakan bahwa pada saat memuji siswa yang kurang pandai atau nakal untuk karja baik mereka, guru sering kali mengecilkan arti pujian itu dengan nada,gaya,atau isyarat-isyarat non verbal yang lain. Brophy (1981) mengidentifikasi ciri-ciri pujian yang efektif sebagai berikut:
1.      Pujian yang diberikan mengacu pada kinerja yang jelas (kontingensi).
2.      Menyertakan fakta-fakta khusus (spesifisitas) dari pencapaian.
3.      Menunjukkan spontanitas,keragaman,dan tanda-tanda lain agar pujian dapat dipercaya (kredibilitas);memberi kesan menaruh perhatian yang tulus kepada pencapaian siswa.
4.      Ganjaran atas hasil karya ditetapkan berdasarkan kriteria kinerja (yang dapat meliputi kriteria upaya).
5.      Menyediakan informasi bagi siswa tentang kompetensi mereka atau bobot nilai dari pencapaian-pencapaian mereka.
6.      Mengorientasikan siswa ke arah apresiasi yang lebih baik atas prilaku mereka sendiri yang relevan dengan tugas dan berfikir tentang pemecahan masalah.
7.      Menggunakan bekal pencapaian awal siswa sendiri sebagai dasar untuk mendiskripsikan pencapaian sekarang.
8.      Diberikan sebagai pengakuan upaya atau keberhasilan atas tugas-tugas yang sulit yang patut diperhatikan.
9.      Mempertalikan keberhasilan dengan upaya dan kemampuan,secara tidak langsung menyatakan bahwa keberhasilan serupa dapat diharapkan di masa yang akan datang.
10.  Memfokuskan perhatian siswa pada prilaku mereka sendiri yang relevan dengan tugas.
 Disamping kontingensi,spesifisitas,dan kredibilitas, seperti yang dimaksudkan pada butir 1,2,dan 3 diatas, daftar brophy diatas khusus memasukkan prinsip-prinsip penting yang memperkuat topik-topik yang didiskusikan padaawal bab ini. Sebagai misal, Butir 7 dan 8 menekankan bahwa pujian seharusnya diberikan untuk kinerja bagus relatif terhadap tingkat kinerja yang biasa dapat dilakukan siswa itu. Artinya, siswa yang biasanya dapat melakukan dengan baik hendaknya tidak diberikan pujian hanya untuk kinerja rata-rata , namun siswa yang biasanya melakukan kurang baik hendaknya dipuji pada saat mereka melakukan lebih baik. Ini berhubungan dengan prinsip dapat mendapatkan (aksesibilitas) ganjaran yang dibahas terdahulu pada bab ini; ganjaran hendaknya jangan terlalu mudah atau terlalu sulit bagi siswa untuk mendapatkannya.

2.      Penggunaan nilai sebagai insentif
Sistem penilaian yang digunakan kebanyakan sekolah melayani tiga fungsi yang berbeda pada waktu yang sama: evaluasi, balikan, dan insentif. Fungsi campuran ini membuat nilai menjadi kurang ideal bila hanya melayani tiap-tiap fungsi. Sebagai missal, karena nilai sebagian besar didasarkan pada kemampuan daripada upaya, maka nilai kurang ideal untuk mencurahkan upaya maksimum. Disamping itu, nilai diberikan terlalu jarang sehingga kurang berguna baik sebagai balikan maupun insentif, khususnya untuk siswa muda yang tidak dapat melihat hubungan antara kerja sekarang ini dengan nilai yang diperoleh dalam 6 mingu masa belajar. Meskipun demikian, nilai efektif menjadi insentif untuk siswa yang lebih dewasa. Eksperimen membandingkan kelas-kelas perguruan tinggi yang dinilai dan tidak dinilai (Gold, Reilly, Silberman, dan Leh, 1971) menemukan kinerja yang signifikan (berarti) lebih tinggi pada kelas yang dinilai. Nilai berfungsi sebagai insentif sebagian karena nilai itu memperbesar makna ganjaran lain yang diberikan berdekatan waktunya dengan perilaku-perileku yang diperkuat nilai itu. Sebagai missal, pada saat siswa memperoleh A untuk makalahnya, siswa itu dapat menyikapi nilai ini sebagian karena nilai A itu merupakan suatu indikasi bahwa nilainya dalam mata kuliah itu juga bagus. Masalah aksesibilitas (terbukanya jalan untuk mencapai) nilai- kenyataannya bahwa nilai bagus terlalu muda bagi sejumlah siswa tetapi terlalu sulit untuk siswa lain – dapat dikurangi sebagian dengan menggunakan system penilaian yang memiliki banyak tingkat. Sebagai missal siswa yang kurang pandai merasa memperoleh ganjaran apabila siswa ini lulus biasa atau apabila ia mendapat nilai C, sementara temen sekelasnya yang pandai dapat tidak puas kecuali mendapat nilai A. disamping itu satu alasan utama mengapa siswa menghargai nilaidalah karena orang tua mereka menghargai nilai, dan khususnya orang tua memuji anakanya untuk peningkatan nilai yang berhasil dicapai, meskipun nilai bagus tidak sama mudahnya dicapai oleh seluruh siswa, peningkatan nilai sudah barang tentu ya, kecuali oleh siswa yang terus menerus mendapat nilai A.

3.      Harapan-harapan Belajar Individual
Cara lain dari pemberian insentif untuk belajar adalah dengan menghargai peningkatan yang berhasil dicapai siswa melampaui rekornya sendiri yang lalu. Keuntungan dari skor peningkatan atau skor perkembangan adalah bahwa skor ini dapat diangkakan dan tidak terlalu bergantung pada pertimbangan subyektif guru seperti halnya skor upaya. Seluruh siswa kecuali siswa dengan kinerja tertinggi mampu memperoleh peningkatan, dan siswa dengan kinerja tinggi dapat diganjar untuk pekerjaan yang sempurna, yang seharusnya berada dalam jangkauan mereka.
Slavin (1980; Beady, Slavin, & Fennessey, 1981) mengembangkan dan mengevaluasi suatu mode pengganjaran siswa untuk peningkatan prestasi yang disebut Harapan Belajar Individual atau Individual Learning Expectations (ILE). Ide dibalik ILE adalah menghargai siswa yang bekerja lebih baik daripada yang mereka lakukan di waktu lampau, agar tetap meningkatkan kinerjanya sampai mereka dapat menunjukkan prestasi sempurna sepanjang waktu. Dengan cara ini, seluruh siswa memiliki kesempatan untuk mendapatkan penghargaan untuk kerja akademik hanya dengan melakukan yang terbaik. Penelitian menemukan bahwa penggunaan ILE meningkat secara signifikan hasil belajar siswa dibandingkan dengan kelas-kelas yang menggunakan sistem penilaian tradisional.

4.      Penerapan Teori di dalam Praktek : Perhitungan Skor Dasar ILE dan Poin Peningkatan
Dalam penerapan ILE, siswa seharusnya paling sedikit mendapat satu kuis pendek tiap minggu untuk tiap mata pelajaran. Kuis ini cukup terdiri dari 10 butir soal. Kuis-kuis ini sebaiknya diskor di kelas segera setelah dikerjakan siswa dengan cara siswa diminta saling menukarkan lembar jawaban dan kemudian guru membacakan jawabannya. Ijinkan siswa melihat pekerjaan mereka sendiri, membahas setiap butir yang banyak di jawab salah, dan kemudian mengumpulkan pekerjaan itu.
a.       Skor Dasar Awal
Skor dasar mewakili skor rata-rata siswa pada kuis-kuis yang lalu. Apabila anda memulai ILE pada awal tahun ajaran, tetapkan skor dasar awal sesuai dengan nilai siswa tahun sebelumnya pada mata pelajaran yang sama.





Perhitungan Skor Dasar Awal

Nilai Tahun Lalu
Skor Dasar Awal
A
90
A-    atau B+
85
B
80
B-    atau C+
75
C
70
C-    atau D
65
F
60

Dalam hal nilai tahun lalu dinyatakan dalam skor angka biasa, seperti yang berlaku pada kebanyakan sekolah, maka skor angka tahun lalu itu dapat langsung diambil sebagai skor dasar awal. Apabila anda mulai menggunakan ILE setelah anda memberikan beberapa kuis di kelas anda, gunakan nilai rata-rata kuis itu sebagai skor awal dasar .

b.      Poin Peningkatan
Setiap saat anda memberikan kuis, bandingkan skor kuis siswa dengan skor dasar mereka, dan diberikan siswa poin peningkatan seperti berikut ini.
Hendaknya dicatat bahwa poin peningkatan diberikan dalam hubungannya dengan kinerja yang lalu. Seorang siswa yang memperoleh nilai rata-rata 75 untuk kuis-kuis yang lalu  dan mendapat skor 80 akan memperoleh yang sama (2) seperti seorang siswa yang nilai rata-ratanya 90 dan kemudian memperoleh nilai 95 pada minggu ini. Sementara itu, tidak ada ruginya bagi siswa yang memiliki skor dasar terlampau tinggi, karena seluruh siswa akan mendapat skor maksimum (poin peninggkatan 3) apabila ia mendapat skor sempurna, tidak melihat berapa pun skor dasarnya.

Penghitungan Poin Peningkatan

Skor Kuis
Poin Peningkatan

Komentar

5 Poin atau lebih di bawah skor dasar
0
“kamu dapat berusaha lebih baik lagi!”
4 poin dibawah sampai 4 poin di atas skor dasar
1
“sekitar prestasi rata-rata untukmu dan sebenarnya kamu dapat mencapai lebih baik lagi”
5-9 poin di atas skor dasar
2
“lebih bagus dari nilai rata-ratamu-kerja yang bagus”
10 poin atau lebih di atas skor dasar atau skor sempurna(tidak melihat berapapun skor dasarnya)
3
“hebat jauh lebih tinggi dari nilai rata-rata”

c.       Balikan Kepada Siswa
Poin peningkatan hendaknya dicantumkan pada kuis-kuis siswa dan mengembalikan pekerjaan itu sesegera mungkin. Di samping itu, setiap dua minggu, skor-skor peningkatan siswa untuk seluruh kuis yang diberikan dalam periode itu hendaknya dirata-rata. Kemudian sertifikat yang menarik atau ganjaran kecil lain hendaknya diberikan kepada yang nilai rata-ratanya paling sedikit 2 poin peningkatan. Pada saat pertama kali anda melakukan cara ini, kirimkan juga edaran ke orang tua yang menjelaskan untuk apa sertifikat itu. Orang tua merupakan kunci keberhasilan ILE. Apabila orang tua menanggapi positif laporan peningkatan anak-anak mereka dan guru mengutamakan kemajuan dan peningkatan, maka siswa juga akan memberikan tanggapan positif.

d.      Penghitungan Kembali Skor Dasar
Pada akhir setiap periode penilaian, hitunglah rata-rata skor pada tiap kuis termasuk skor rata-rata yang lalu, dan hitung skor dasar baru (bulatkan harga pecahan yang diperoleh saat menghitung rata-rata). Sebagai misal, andaikan nilai rata-rata Shinta yang lalu adalah 84 dan skor kuisnya adalah 90, 95, dan 90. Skor dasar baru Shinta dihitung seperti berikut.

84  Skor dasar lama
+90   Skor kuis 1  (2 poin peningkatan)
+95   Skor kuis 2  (3 poin peningkatan)
+90   Skor kuis 3  (2 poin peningkatan)
 = 89, 75 (pembulatan pecahan); 90 = 90(skor dasar baru)

Karena skor kuis Shinta seluruhnya diatas skor dasarnya (84), maka skor dasarnya yang baru naik menjadi 90. Pada waktu-waktu yang akan datang, akan agak lebih berat bagi shinta untuk memperoleh poin peningkatan.
e.       Poin Peningkatan dan Nilai
Pada saat anda memberikan nilai, juga umumkan poin peningkatan rata-rata untuk periode penilaian itu. Pada umunmnya, poin peningkatan tinggi seharusnya mencerminkan nilai lebih tinggi. Sebagai misal, seseorang siswa yang rata-rata poin peningkatannya 2 atau lebih, nilai akhirnya dapat naik dari C ke B atau dari B ke A. lagi-lagi komunikasikan kepada siswa (dan orang tua mereka) bahwa upaya dan peningkatan adalah penting dan komunikasi ini merupakan hal penting dalam rangka mewujudkan system poin peningkatan yang efektif.

5.      Sistem Insentif Yang Didasarkan Pada Struktur Tujuan
Salah satu aspek system insentif kelas yang telah mendapatkan perhatian penelitian yang besar akhir-akhir ini adalah struktur tujuan (goal structure) kelas. Istilah ini mengacu pada seberapa jauh siswa berada dalam semangat saling kerjasama atau kompetisi. Apabila siswa berada pada iklim kompetisi, setiap keberhasilan siswa berarti kegagalan bagi siswa lain. Sebagai missal, apabila guru menerapkan suatu kebijaksanaan bahwa hanya seperempat kelas yang memperoleh A, ini berarti siswa lain tidak dapat memperoleh A. iklim sebaliknya terjadi pada kerjasama. Apabila suatu kelompok yang terdiri dari 4 orang siswa, sedang mengerjakan tugas laboratorium bersama-sama, mereka akan berhasil atau gagal bersama-sama. Apabila ada seorang siswa yang bekerja keras, hal ini akan meningkatkan peluang siswa lain untuk berhasil. Struktur tujuan ketiga adalah individualisasi, di mana keberhasilan atau kegagalan seorang individu tidak memiliki konsekwensi terhadap individu lain. Sebagai misal, apabila guru mengatakan, “Saya akan  nilai A kepada seluruh siswa yang mencapai nilai rata-rata 90 untuk seluruh kuis yang diberikan   dalam masa pelajaran ini,” maka siswa di dalam kelas itu berada dalam struktur tujuan individual, karena keberhasilan siapa pun tidak akan memiliki konsekwensi bagi keberhasilan teman sekelasnya (Johnson  Johnson, 1987).
Struktur tujuan kompetitif telah dikritik karena tidak mendorong siswa saling membantu dalam belajar (Johnson, 1987), cendrung menumbuhkan keinginan siswa untuk saling menjatuhkan di kelas (Ames, 1986), dan menciptakan peluang yang kecil untuk keberhasilan siswa (Salvin, 1995). Coleman (1961) mencatat bahwa seorang individu yang berhasil dalam olahraga memperoleh dukungan dari siswa lain karena pahlawan olahraga mendatangkan kebanggaan bagi tim dan sekolah, namun siswa sering tidak suka dengan siswa lain yang mendapatkan hasil belajar tinggi karena sistem akademik kompetitif, hasil belajar hanya mendatangkan keberhasilan bagi individu itu sendiri.  




BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Prestasi belajar siswa berkaitan erat dengan motivasi belajar siswa. Guru sebagai tenaga pendidik memiliki tanggung jawab dalam memotivasi siswa dalam belajar. Ada banyak teknik yang dapat dilakukan seorang guru untuk meningkatkan memotivasi seorang siswa dalam proses belajar mengajar. Dari sekian banyak teknik ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yakni terkait motivasi intrinsik dan ekstrinsik, di mana seorang guru harus tahu bagaimana seorang guru bisa meningkatkan motivasi intrinsik dan ekstrinsik tersebut. Demi meningkatkan motivasi intrinsik dan ekstrinsik tersebut, guru harus mengerti bagaimana sebaiknya seorang guru memberikan ganjaran atas kinerja, upaya dan perbaikan siswa.

B.     Saran
Semoga apa yang telah di sampaikan dapat dikaji dan dimanfaatkan dengan baik.




DAFTAR PUSTAKA

Nur, Mohamad. 2001. Pemotivasian Siswa Untuk Belajar. Surabaya : Universitas Negeri Surabaya.
Anonim. 2011. Pemotivasian Siswa Untuk Belajar. http://www.slideshare.net/fajarww/pemotivasian-siswa-untuk-belajar. Diakses pada tanggal 15 September 2014 Pukul 20.09.

Anonim. 2008. Pengaruh Motivasi Terhadap Peningkatan Kinerja. http://teknologikinerja.wordpress.com/2008/05/06/pengaruh-motivasi-terhadap-peningkatan-kinerja/. Diakses pada tanggal 15 September pukul 21.00a

Load comments