Selasa, 3 Mac 2015

Bagaimana Terjadinya Awan?

Bagaimana Terjadinya Awan?


Panas dari matahari akan menyebabkan air dilaut, sungai dan danau menguap. Uap air yang hangat tersebut akan bergerak naik keatas, dan saat uap tersebut naik, uap air mulai menjadi dingin. Hasilnya, uap air tersebut mulai berkondensasi membentuk kembali butiran-butiran air. Kumpulan dari butiran-butiran air dilangit tersebut yang kita kenal sebagai awan. Butiran-butiran air yang makin lama makin membesar akhirnya akan jatuh kembali ke bumi sebagai hujan.
Awan merupakan siklus dari terjadinya hujan.

source 
Mengapa Bisa Terjadi Petir?

Mengapa Bisa Terjadi Petir?


Petir terjadi akibat perpindahan muatan negatif menuju ke muatan positif. Menurut batasan fisika, petir adalah lompatan bunga api raksasa antara dua massa dengan medan listrik berbeda. Prinsip dasarnya kira-kira sama dengan lompatan api pada busi.

Petir adalah hasil pelepasan muatan listrik di awan. Energi dari pelepasan itu begitu besarnya sehingga menimbulkan rentetan cahaya, panas, dan bunyi yang sangat kuat yaitu geluduk, guntur, atau halilintar. Geluduk, guntur, atau halilintar ini dapat menghancurkan bangunan, membunuh manusia, dan memusnahkan pohon. Sedemikian raksasanya sampai-sampai ketika petir itu melesat, tubuh awan akan terang dibuatnya, sebagai akibat udara yang terbelah, sambarannya yang rata-rata memiliki kecepatan 150.000 km/detik itu juga akan menimbulkan bunyi yang menggelegar.
Mengapa Kilatan Halilintar dan Suaranya Tampak Tidak Terjadi Dalam Satu Waktu?

Mengapa Kilatan Halilintar dan Suaranya Tampak Tidak Terjadi Dalam Satu Waktu?




Kilatan halilintar dan suaranya tampak tidak terjadi dalam satu waktu. Sebenarnya, kilatan halilintar dan suaranya terjadi bersamaan. Mengapa kita melihat kilatan halilintar lebih dahulu, kemudian disusul suaranya? Hal ini berkaitan dengan cepat rambat gelombang. Halilintar terdiri atas dua gelombang, yaitu gelombang cahaya yang berupa kilatannya dan gelombang bunyi yang berupa suaranya. Karena kedua gelombang ini mempunyai cepat rambat gelombang yang berbeda, dua gelombang ini tampak terjadi beriringan. Ternyata cepat rambat gelombang cahaya lebih besar dari cepat rambat gelombang bunyi. Oleh karena itu, kilatan cahaya akan lebih dahulu kita lihat, kemudian disusul suaranya. Hal serupa juga terjadi ketika kamu mendengar bunyi pesawat di atas kamu, ternyata pesawat terlihat sudah jauh berada di depan. Hal ini disebabkan cepat rambat cahaya lebih besar daripada cepat rambat bunyi. Kecepatan perambatan gelombang bunyi bergantung pada medium tempat gelombang bunyi tersebut dirambatkan. Selain itu, kecepatan rambat bunyi juga bergantung pada suhu medium tersebut.

Jumaat, 9 Januari 2015

Action Script Dasar Menggerakkan Objek dalam Flash / Kinematika Gerak dalam Flash

Action Script Dasar Menggerakkan Objek dalam Flash / Kinematika Gerak dalam Flash


 AdobeFlash

Tutorial ini akan menjelaskan kepada Anda pembaca bagaimana menggerakkan sebuah objek berupa movie clip dengan mempertimbangkan beberapa aspek, tutorial ini dapat dijadikan panduan bagi Anda yang ingin membuat sebuah media interaktif yang didalamnya terdapat objek yang harus digerakkan dengan keyboard atau bagi anda yang ingin membuat game balap atau game arcade.Dalam tutorial ini, saya menggunakan AS 2.0. Sebenarnya tidak mudah menggerakkan suatu objek dalam flash, karena banyak faktor yang harus dipertimbangkan seperti kecepatan, hambatan, gravitasi dan lain-lain. Kita akan memulainya sedikit demi sedikit.

Untuk Persiapan, buak sebuah file baru di AS 2.0 dengan ukuran kira-kira 500 x 350 pixel atau lebih. Buatlah sebuah movie clip bola sederhana, di dalam movie clip bola tersebut terdapat sebuah tanda berupa lingkaran kecil diatasnya yang berguna sebagai penunjuk arah. Lalu beri nama instance name mc bola dengan nama "bola".Kemudian buatlah sebuah tombol reset, letakkan tombol ini di sudut kanan bawah kemudian beri Action script pada tombol

on (release) {
_root.bola._x = 231;
_root.bola._y = 20;
}

Sekarang kita akan mencoba menggerakkan mc bola secara bertahap mulai dari hal yang paling dasar, semua Action script berikut ditulis di dalam mc bola.

GERAKAN DASAR

Gerakan dasar yang dimaksud yaitu menggerakkan mc bola dengan keyboard tanpa mempertimbangkan faktor lain, jadi hanya sekedar merubah posisi x dan y dari mc bola sebesar 1 pixel unit, berikut kodenya:

onClipEvent (enterFrame) {
if (Key.isDown(Key.LEFT)) {
_x--;
}
if (Key.isDown(Key.RIGHT)) {
_x++;
}
if (Key.isDown(Key.UP)) {
_y--;
}
if (Key.isDown(Key.DOWN)) {
_y++;
}
}



GERAKAN DENGAN PENAMBAHAN VARIABEL KECEPATAN

Pada Gerakan Dasar sebelumnya, mc bola hanya berpindah sebesar 1 pixel unit di kordinat x dan y, sekarang kita akan merubah nilai tersebut dengan membuat sebuah variabel yang dapat kita atur sehingga pergeseran mc bola bergantung pada besarnya nilai variabel yang diberikan, dalam fisika kita biasa mengenalnya dengan Gerak Lurus Beraturan (GLB). Misal variabel tersebut adalah kecepatan, maka mc bola akan berindah sejauh nilai kecepatan yang diberikan, berikut kodenya :

onClipEvent (load) {
kecepatan = 3;
}
onClipEvent (enterFrame) {
if (Key.isDown(Key.LEFT)) {
_x -= kecepatan;
}
if (Key.isDown(Key.RIGHT)) {
_x += kecepatan;
}
if (Key.isDown(Key.UP)) {
_y -= kecepatan;
}
if (Key.isDown(Key.DOWN)) {
_y += kecepatan;
}
}



GERAKAN DENGAN PERCEPATAN
Sekarang kita akan mencoba menggerakkan bola dengan memperhatikan adanya percepatan dan perlambatan yang kita atur sendiri nilainya dengan membuat sebuah variabel percepatan. Dalam fisika kita mengenalnya dengan Gerak Lurus Berubah Beraturan (GLBB), disini saya juga mulai membedakan arah kecepatan pada sumbu x dan pada sumbu y dengan membelah variabel kecepatan, Kodenya yaitu :

onClipEvent (load) {
percepatan = 0.2;
kecepatan_x = 0;
kecepatan_y = 0;
}
onClipEvent (enterFrame) {
if (Key.isDown(Key.LEFT)) {
kecepatan_x -= percepatan;
}
if (Key.isDown(Key.RIGHT)) {
kecepatan_x += percepatan;
}
if (Key.isDown(Key.UP)) {
kecepatan_y -= percepatan;
}
if (Key.isDown(Key.DOWN)) {
kecepatan_y += percepatan;
}
_y += kecepatan_y;
_x += kecepatan_x;
}



GAYA GESEK

Dalam keadaan nyata, sebuah objek yang bergerak pada suatu bidang, akan mengalami gesekan dengan bidangnya, sekarang kita akan coba menambahkan unsur variabel gesekan dalam gerakan mc bola, dalam fisika variabel tersebut dinamakan koefisien gesek. Kodenya yaitu:

onClipEvent (load) {
percepatan = 0.2;
kecepatan_x = 0;
kecepatan_y = 0;
gesekan = 0.95
}
onClipEvent (enterFrame) {
if (Key.isDown(Key.LEFT)) {
kecepatan_x -= percepatan;
}
if (Key.isDown(Key.RIGHT)) {
kecepatan_x += percepatan;
}
if (Key.isDown(Key.UP)) {
kecepatan_y -= percepatan;
}
if (Key.isDown(Key.DOWN)) {
kecepatan_y += percepatan;
}
kecepatan_x *= gesekan;
kecepatan_y *= gesekan;
_y += kecepatan_y;
_x += kecepatan_x;
}



GRAVITASI

Sebuah benda yang berada di udara akan mengalami gaya tarik yang besarnya ditentukan oleh percepatan gravitasi. Sekarang kita akan memperhitungkan efek gravitasi pada objek yang seolah-olah berada di udara dengan menambahkan efek gravitasi yang hanya mempengaruhi nilai variabel dari kecepatan pada sumbu y.Dalam fisika kita mengenalnya dengan gerak jatuh bebas. Kodenya adalah:

onClipEvent (load) {
percepatan = 0.2;
kecepatan_x = 0;
kecepatan_y = 0;
gesekan = 0.95
gravitasi = 0.1
}
onClipEvent (enterFrame) {
if (Key.isDown(Key.LEFT)) {
kecepatan_x -= percepatan;
}
if (Key.isDown(Key.RIGHT)) {
kecepatan_x += percepatan;
}
if (Key.isDown(Key.UP)) {
kecepatan_y -= percepatan;
}
if (Key.isDown(Key.DOWN)) {
kecepatan_y += percepatan;
}
kecepatan_x *= gesekan;
kecepatan_y += gravitasi;
_y += kecepatan_y;
_x += kecepatan_x;
}



EFEK ANGIN

Masih dalam pembahasan gerak jatuh bebaas, namun sekarang kita tambahkan lagi efek tiupan angin yang bekerja pada saat benda di udara dengan angin yang kencang.

onClipEvent (load) {
percepatan = 0.2;
kecepatan_x = 0;
kecepatan_y = 0;
gesekan = 0.95
gravitasi = 0.1
angin = 0.05
}
onClipEvent (enterFrame) {
if (Key.isDown(Key.LEFT)) {
kecepatan_x -= percepatan;
}
if (Key.isDown(Key.RIGHT)) {
kecepatan_x += percepatan;
}
if (Key.isDown(Key.UP)) {
kecepatan_y -= percepatan;
}
if (Key.isDown(Key.DOWN)) {
kecepatan_y += percepatan;
}
kecepatan-x +=angin;
kecepatan_x *= gesekan;
kecepatan_y += gravitasi;
_y += kecepatan_y;
_x += kecepatan_x;
}



ROTASI

Sekarang akan kita tambahkan efek putaran yang bekerja pada mc bola yang sedang bergerak, kodenya adalah :

onClipEvent (load) {
percepatan = 0.2;
kecepatan_x = 0;
kecepatan_y = 0;
gesekan = 0.95
gravitasi = 0.1
angin = 0.05
}
onClipEvent (enterFrame) {
if (Key.isDown(Key.LEFT)) {
kecepatan_x -= percepatan;
}
if (Key.isDown(Key.RIGHT)) {
kecepatan_x += percepatan;
}
if (Key.isDown(Key.UP)) {
kecepatan_y -= percepatan;
}
if (Key.isDown(Key.DOWN)) {
kecepatan_y += percepatan;
}
kecepatan_x +=angin;
kecepatan_x *= gesekan;
kecepatan_y += gravitasi;
_y += kecepatan_y;
_x += kecepatan_x;
_rotation += kecepatan_x;
}


source

Selasa, 6 Januari 2015

UJIAN NASIONAL SMP SOAL DAN PEMBAHASAN

UJIAN NASIONAL SMP SOAL DAN PEMBAHASAN

Miskonsepsi dalam Pembelajaran Fisika

Miskonsepsi dalam Pembelajaran Fisika


Novak (1984 : 20) mendefinisikan miskonsepsi sebagai suatu interpretasi konsep-konsep dalam suatu pernyataan yang tidak dapat diterima. Suparno (1998 : 95) memandang miskonsepsi sebagai pengertian yang tidak akurat akan konsep, penggunaan konsep yang salah, klasifikasi contoh-contoh yang salah, kekacauan konsep-konsep yang berbeda dan hubungan hierarkis konsep-konsep yang tidak benar. Dari pengertian di atas miskonsepsi dapat diartikan sebagai suatu konsepsi yang tidak sesuai dengan pengertian ilmiah atau pengertian yang diterima oleh para ilmuwan. Miskonsepsi didefinisikan sebagai konsepsi siswa yang tidak cocok dengan konsepsi para ilmuwan, hanya dapat diterima dalam kasus-kasus tertentu dan tidak berlaku untuk kasus-kasus lainnya serta tidak dapat digeneralisasi. Konsepsi tersebut pada umumnya dibangun berdasarkan akal sehat (common sense) atau dibangun secara intuitif dalam upaya memberi makna terhadap dunia pengalaman mereka sehari-hari dan hanya merupakan eksplanasi pragmatis terhadap dunia realita. Miskonsepsi siswa mungkin pula diperoleh melalui proses pembelajaran pada jenjang pendidikan sebelumnya (Sadia, 1996:13).

Penyebab dari resistennya sebuah miskonsepsi karena setiap orang membangun pengetahuan persis dengan pengalamannya. Sekali kita telah membangun pengetahuan, maka tidak mudah untuk memberi tahu bahwa hal tersebut salah dengan jalan hanya memberi tahu untuk mengubah miskonsepsi itu. Jadi cara untuk mengubah miskonsepsi adalah dengan jalan mengkonstruksi konsep baru yang lebih cocok untuk menjelaskan pengalaman kita (Bodner, 1986 : 14). Sejumlah miskonsepsi sangatlah bersifat resistan, walaupun telah diusahakan untuk menyangkalnya dengan penalaran yang logis dengan menunjukkan perbedaannya dengan pengamatan-pengamatan sebenarnya, yang diperoleh dari peragaan dan percobaan yang dirancang khusus untuk maksud itu. Jumlah siswa yang berpegang terus pada miskonsepsi cenderung menurun dengan bertambahnya umur mereka dan makin tingginya strata pendidikan mereka. Keterampilan siswa dalam mengubah-ubah bentuk matematis rumus-rumus yang menyatakan hukum-hukum fisika dan kelincahan mereka dalam menggunakan rumus untuk memecahkan soal-soal kuantitatif dapat menyembunyikan miskonsepsi mereka tentang hukum-hukum itu. Belum tentu mereka dapat menyembunyikan hukum-hukum itu secara kualitatif, seperti misalnya besaran mana yang merupakan sebab dan besaran mana yang merupakan akibat pada penerapan hukum Ohm (Wilarjo, 1998 : 55).

Jadi dapat disimpulkan bahwa menurut paradigma konstruktivis, dalam pikiran setiap orang terdapat skemata. Melalui skemata itu ia mampu membangun gambaran mental tentang gejala-gejala yang dialaminya. Miskonsepsi didefinisikan sebagai konsepsi siswa yang tidak cocok dengan konsepsi yang benar, hanya dapat ditemukan dalam kasus-kasus tertentu dan tidak berlaku untuk kasus-kasus lainnya serta tidak dapat digeneralisasi. Miskonsepsi akan terbentuk bila gambaran mental seseorang tidak sesuai dengan konsepsi seorang ilmuwan. Suatu miskonsepsi muncul bila gambaran tersebut dibayangkan secara intuitif oleh seseorang atas dasar pengalaman sehari-harinya. Dalam menangani miskonsepsi yang dipunyai siswa, kiranya perlu diketahui lebih dahulu konsep-konsep alternatif apa saja yang dipunyai siswa dan dari mana mereka mendapatkannya. Dengan demikian kita dapat memikirkan bagaimana
mengatasinya. Diperlukan cara-cara mengidentifikasi atau mendeteksi salah pengertian tersebut yaitu melalui peta konsep, tes essai, interview klinis dan diskusi kelas (Novak, 1985 : 94 ; Pearsall, 1996:199 ; Sadia, 1997:8 ; Harlen, 1992:176).

a. Peta Konsep (Concept Maps)
Novak (1985 : 94) mendefinisikan peta konsep sebagai suatu alat skematis untuk merepresentasikan suatu rangkaian konsep yang digambarkan dalam suatu kerangka proposisi. Peta itu mengungkapkan hubungan-hubungan yang berarti antara konsep-konsep dan menekankan gagasan-gagasan pokok. Peta konsep disusun hierarkis, konsep esensial akan berada pada bagian atas peta. Miskonsepsi dapat diidentifikasi dengan melihat hubungan antara dua konsep apakah benar atau tidak. Biasanya miskonsepsi dapat dilihat dalam proposisi yang salah dan tidak adanya hubungan yang lengkap antar konsep. Pearsal (1996 : 199) menyatakan bahwa dengan peta konsep kita dapat melihat refleksi pengetahuan yang dimiliki siswa. Dengan mencermati kompleksitas peta konsep tersebut kita dapat mendeteksi konsep-konsep mana yang kurang tepat dan sekaligus perubahan konsepnya. Untuk lebih melihat latar belakang susunan peta konsep tersebut ada baiknya peta konsep itu digabung dengan interview klinis. Dalam interview itu siswa diminta mengungkapkan lebih mendalam gagasan-gagasannya.

b. Tes Esai Tertulis
Guru dapat mempersiapkan suatu tes esai yang memuat beberapa konsep fisika yang memang mau diajarkan atau yang sudah diajarkan. Dari tes tersebut dapat diketahui salah pengertian yang dibawa siswa dan salah pengertian dalam bidang apa. Setelah ditemukan salah pengertiannya, beberapa siswa dapat diwawancarai untuk lebih mendalami mengapa mereka punya gagasan seperti itu. Dari wawancara itulah akan kentara dari mana salah pengertian itu dibawa.

c. Interview klinis
Interview klinis dilakukan untuk melihat miskonsepsi pada siswa. Guru memilih beberapa konsep fisika yang diperkirakan sulit dimengerti siswa, atau beberapa konsep fisika yang essensial dari bahan yang mau diajarkan. Kemudian, siswa diajak untuk mengekspresikan gagasan mereka mengenai konsep-konsep di atas. Dari sini dapat dimengerti latar belakang munculnya miskonsepsi yang ada dan sekaligus ditanyakan dari mana mereka memperoleh miskonsepsi tersebut.

d. Diskusi dalam Kelas
Dalam kelas siswa diminta untuk mengungkapkan gagasan mereka tentang konsep yang sudah diajarkan atau yang mau diajarkan. Dari diskusi di kelas itu dapat dideteksi juga apakah gagasan/ide mereka tepat atau tidak (Harlen, 1992:176). Dari diskusi tersebut, guru atau seorang peneliti dapat mengerti konsep-konsep alternatif yang dipunyai siswa. Cara ini lebih cocok digunakan pada kelas yang besar dan juga sebagai penjajakan awal.

Miskonsepsi sangatlah resisten dalam pembelajaran bila tidak diperhatikan dengan seksama oleh guru. Di bawah ini diberikan beberapa contoh miskonsepsi yang sering dijumpai pada siswa. 

Gerak
Banyak siswa juga punya salah pengertian tentang percepatan gravitasi. Kebanyakan siswa secara spontan mengatakan bahwa sebuah benda yang lebih berat akan jatuh lebih cepat daripada benda yang ringan pada peristiwa gerak jatuh bebas. Beberapa siswa malah masih menganggap bahwa bola besi dan bola plastik yang dijatuhkan bebas dari ketinggian yang sama akan sampai di tanah dalam waktu yang berbeda karena bola besi akan jatuh lebih cepat dari bola plastik. Padahal menurut prinsip fisika, kedua benda itu akan jatuh dengan percepatan yang sama dan waktu yang ditempuh sampai ke lantai juga sama (bila tidak ada unsur lain yang mempengaruhi). Cukup banyak siswa juga berpikir bahwa jika dua benda bergerak dalam waktu dan percepatan yang sama, mereka akan punya jarak tempuh sama pula. Mereka lupa bahwa kecepatan awal perlu diperhitungkan karena unsur itu yang membuat jaraknya berbeda. Menurut beberapa penelitian, salah pengertian terbanyak terjadi pada gerak parabola. Siswa masih sulit menangkap mengapa kecepatan pada puncak suatu projektil adalah nol, meski percepatannya tidak nol. Mereka berpikir bahwa jika kecepatan itu nol, percepatannnya juga harus nol (Suparno, 1998:97).

Gaya, massa, dan berat
Banyak siswa bingung dengan konsep dari gaya, massa dan berat. Dalam fisika, berat (G) adalah suatu gaya (F) dan punya unit newton; sedangkan massa (m) punya satuan kilogram, dan ini bukan gaya. Namun, banyak siswa menuliskan bahwa berat adalah suatu massa dan punya satuan kilogram. Beberapa siswa menghubungkan gaya dengan suatu aksi dan gerak. Maka mereka menangkap bahwa jika tidak ada suatu gaya, tidak akan ada suatu gerakan. Akibatnya, mereka berpikir bahwa bila tidak ada gerak sama sekali, juga tidak ada gaya. Misalnya, jika seorang mendorong suatu kereta dan kereta itu bergerak, siswa mengatakan ada suatu gaya bekerja pada kereta itu. Namun, bila kereta itu tidak bergerak, mereka mengatakan bahwa tidak ada gaya pada kereta tersebut, meski orang itu mendorong kereta dengan energi yang besar. Dalam fisika, meski kereta tidak bergerak, tetap ada gaya yang bekerja padanya.

Kerja, kekekalan energi dan momentum
Dalam fisika, kerja (W) sama dengan gaya (F) kali jarak (S) (W = F.S). Jika suatu gaya (F) bekerja pada suatu objek dan objek itu tidak bergerak dalam suatu jarak tertentu (S), maka tidak ada kerja (W). Di sini beberapa siswa berpikir bahwa di situ ada kerja (W). Mereka sulit mengerti mengapa jika seseorang mendorong suatu kereta dengan banyak energi, ia tidak membuat kerja. Mereka berpikir bahwa jika seseorang membuat aktivitas dengan suatu energi ia membuat suatu kerja, gagasan ini bertentangan dengan prinsip fisika yang diterima. Beberapa siswa mengalami kesulitan untuk memahami konsep kekekalan energi. Mereka mengalami dalam hidup mereka bahwa jika mereka mengendarai mobil atau sepeda motor cukup lama, bensinnya akan habis. Jika mereka bekerja giat, mereka akan lelah kehabisan tenaga. “Bagaimana mungkin dapat dikatakan bahwa energinya tetap/kekal?" demikian mereka menyangsikan. Beberapa siswa mengatakan bahwa jika dua kereta dengan kecepatan yang sama tetapi arahnya berlawanan bertumbukan, mereka akan berhenti karena kecepatan totalnya menjadi nol. Mereka lupa bahwa kekekalan momentum membutuhkan resultan momentum (mv) = 0. Maka jika massanya berbeda, mereka tidak akan berhenti langsung (Suparno, 1998:98).

Dalam Bidang Optika
Banyak siswa punya salah pengertian mengenai hukum refleksi cahaya kedua. Mereka berpikir bahwa kesamaan antara sudut datang dan sudut refleksi hanya terjadi pada suatu kaca datar. Miskonsepsi yang sering dijumpai adalah bahwa kita melihat sebuah benda bila kita memancarkan sinar cahaya dari mata ke benda itu. Miskonsepsi yang lain bahwa kita dapat melihat bayangan sekujur tubuh kita dalam cermin yang kecil asalkan kita berdiri cukup jauh dari cermin itu. Tentu saja semuanya tidak benar, karena ada ukuran minimum agar badan kita tampak seluruhnya dalam cermin. Miskonsepsi yang lazim dalam Optika ialah bahwa bila kita menatap langit yang bertabur bintang dari bumi pada suatu malam, kita akan melihat bintang-bintang itu berkedip-kedip, sedangkan planet-planet tidak berkedip-kedip. Alasan yang mendukung miskonsepsi ini adalah karena bintang-bintang memancarkan cahaya sendiri, sedangkan planet hanya memancarkan cahaya yang mereka pantulkan dari matahari. Bahwa bintang-bintang menyinarkan cahaya mereka sendiri sedangkan planet hanya sebagai pemantul memang benar, tetapi di langit malam planet juga berkedip-kedip. Kedip-kedipan itu disebabkan oleh berubahnya rapat udara dalam atmosfer bumi. Lapisan atmosfer yang bergejolak ini menyimpangkan garis pandang kita. Planet merupakan obyek yang kelihatan lebih besar sebab letaknya lebih dekat. Itulah sebabnya mengapa kedipan planet kurang nyata dibandingkan dengan bintang, namun planet-planet itu toh berkedip-kedip juga.

Dari beberapa miskonsepsi yang telah dikemukakan ada beberapa faktor kemungkinan penyebab miskonsepsi tersebut , antara lain : (1) buku pelajaran, buku pelajaran yang memuat rumus atau uraian materi yang salah dapat memicu miskonsepsi, (2) guru-guru yang mengalami miskonsepsi dengan sendirinya akan menjadi penyebab utama munculnya miskonsepsi pada siswa, (3) kesalahan bahasa, dalam banyak kasus kesalahan bahasa ini muncul akibat budaya masyarakat yang terlanjur salah-kaprah dalam mendefinisikan sesuatu secara ilmiah, misalnya pengertian berat dan massa, (4) intuisi yang salah, ini merupakan faktor yang paling dominan mengakibatkan miskonsepsi di kalangan siswa, misalnya anggapan massa jenis zat padat selalu lebih besar dari zat cair, (5) metode mengajar yang tidak tepat, metode mengajar yang tidak tepat akan dapat memicu munculnya miskonsepsi.
Kumpulan Soal dan Pembahasan Aplikasi Konsep Fisika

Kumpulan Soal dan Pembahasan Aplikasi Konsep Fisika



Info :
Dalam Kehidupan sehari-hari kita sering dihadapkan pada masalah-masalah yang berhubungan dengan fisika. Misalnya, mengapa langit berwarna biru, mengapa buah apel jatuh ke bawah dll. Disini terdapat beberapa soal dan pembahasan yang berhubungan dengan aplikasi konsep fisika.


Download :
1. Besaran dan Satuan Download Disini
2. Dinamika Gerak Rotasi (Momentum Angular) Download Disini
3. Energi dan Transfer Energi Download Disini
4. Energi Potensial Download Disini
5. Gerak Melingkar dan Aplikasi Lain Hukum Newton Download Disini
6. Gerak Osilasi Download Disini
7. Gravitasi Universal Download Disini
8. Hukum Gerak Newton Download Disini
9. Kesetimbangan Statik dan Elastisitas Download Disini
10. Mekanika Fluida Download Disini
11. Momentum Linier dan Tumbukan Download Disini
12. Panas dan Hukum Pertama Termodinamika Download Disini
13. Rotasi Benda Tegar Download Disini
14. Superposisi dan Gelombang Berdiri Download Disini
15. Temperatur Download Disini
 
source